Ditulis Oleh : Almira Nesya Wardana
Dina adalah anak yang baik hati dan sopan. Ia juga suka berkompetisi dan sering mengikuti berbagai lomba, terutama lomba tahfiz. Namun, Dina belum pernah menang. Padahal, ia sudah berlatih dengan serius dan rutin mengulang hafalan Al-Qurannya setelah salat Magrib. Setelah menunggu berbulan-bulan, Dina kembali mengikuti lomba tahfiz. Ia sangat bersemangat dan merasa sudah tidak terlalu gugup. Namun, saat hari perlombaan tiba, rasa gugup itu kembali muncul. Ketika gilirannya tampil, Dina merasa takut.
“Bagaimana aku bisa menang kalau aku lupa mempersiapkan satu hal?” gumamnya.
Ternyata, Dina lupa mempersiapkan irama hafalannya. Sejak menyadarinya, Dina semakin gugup hingga akhirnya kembali kalah. Dina sangat sedih. Namun, Ibu Guru menyemangatinya.
“Dina sudah memberikan yang terbaik. Ingat, mengikuti lomba bukan hanya tentang menang. Dina bisa belajar percaya diri, berani tampil, dan mendapatkan pengalaman,” ujar Ibu Guru.
Dina akhirnya mengerti. Kalah bukan berarti gagal. Ia terus berlatih dan tidak menyerah. Pada perlombaan berikutnya, Dina berhasil meraih kemenangan. Ia sangat bahagia dan berterima kasih kepada Ibu Guru, orang tua, dan teman-temannya yang selalu mendukung.
Dina tersenyum. Kini ia memahami bahwa kekalahan adalah bagian dari proses belajar. Selama mau berusaha dan terus memperbaiki diri, kita tidak pernah benar-benar gagal. ***

